TATIYE.ID (KABGOR) – Terkait pemberitaan soal Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP Kabupaten Gorontalo yang meminta Hendra Hemeto membawa Partai Golkar secara utuh, bukan hanya dirinya pribadi akhirnya dijawab langsung oleh Dadang, sapaan akrab Hendra Hemeto.
Saat dihubungi Melalui via WhatsApp, Hendra mengatakan berita yang beredar sekarang bahwa dirinya harus bawa partai Golkar utuh, jika ingin koalisi dengan PPP perlu diluruskan. “Bahwa saya satu-satunya yang memegang mandat/surat tugas dari DPP Partai Golkar dan ditandatangani langsung oleh Ketum Airlangga Hartarto dan Sekjen. Surat mandat/tugas itu dikeluarkan oleh DPP Partai Golkar hanya kepada satu orang di setiap daerah yang melaksanakan pilkada dan diprioritaskan bagi Ketua-ketua DPD 2 untuk pilkada kab/kota dan ketua DPD 1 untuk pilkada dan pilgub.” ujar Hendra.
Lebih lanjut Hendra mengatakan, dalam surat atau mandat tersebut ada beberapa poin yaitu mencari partai koalisi, mencari pasangan calon Bupati atau Wakil Bupati, dan melaporkan ke DPP Partai Golkar berkenaan dengan poin 1 dan 2 untuk segera diterbitkan Surat Keputusan (SK) atau Rekomendasi pada Pilkada 2020.
“Jadi karna saya pemegang mandat tersebut hanya membidik wakil bupati maka yang harus lebih dahulu mengeluarkan rekomendasi adalah PPP yang mengusung calon Bupati dan jika rekom PPP sudah keluar, maka rekom Golkar juga akan segera dikeluarkan dengan melampirkan rekom PPP. Jadi kekhawatiran DPC PPP tidak akan terjadi selama surat mandat tersebut masih dipegang dan masih atas nama Hendra Hemeto,” jelas Hendra.
Hendra pun menegaskan, begitu rekom PPP keluar maka rekom partai Golkar juga otomatis akan segera diterbitkan berdasarkan pada surat mandat atau tugas yang telah dikeluarkan oleh DPP Partai Golkar kepada Ketua DPD 2 Partai Golkar Kabupaten Gorontalo.
Seperti diketahui pada pemberitaan sebelumnya, pada rapat Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), yang berlangsung di kota Gorontalo, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Gorontalo meminta kepada Hendra Hemeto untuk membawa partai Golkar secara utuh, bukan pribadinya Hendra semata. (*)
















