
Puskesmas Paguat tak layak menangani pasien malaria, hal ini terungkap usai meninggalnya salah satu pasien yang bernama lengkap Purwanto Sudarmanto (35) yang didiagnosa malaria oleh pihak Puskesmas. Jumat (23/01/2026)
Kejadian bermula Kamis (15/01). Saat pasien bersama keluarga mendatangi Puskesmas Paguat, pasien mengeluhkan sakit pada bagian kaki disertai dengan sesak nafas. Pasien sempat dirawat semalam hingga pada akhinya direkomendasikan untuk dilakukan rujukan ke Rumah Sakit Aloei Saboe, Kota Gorontalo karena diduga terkena penyakit malaria berdasarkan hasil pemeriksaan cepat.
“Saat itu saya telponan dengan Nakes Puskes, tidak jauh dari situ kata Nakes, ini ada dokter disamping saya, nah saat itu dokter bilang, pasien harus dirujuk,” kata Febri pada Jumat (16/01).
Mendengar hal itu, kerabat pasien, Febriyanto Mahmud mempertanyakan apakah alasan pasien harus dirujuk, melalui sambungan telepon, dokter umum yang sedang piket saat itu mengatakan bahwa puskesmas tidak memliki oban injeksi untuk pasien malaria.
“Saat dokter itu bilang mau dirujuk, saya tanya lagi, apa kekurangan di pohuwato sehingga harus dirujuk, saat itu kata dokter, puskes tidak tersedia injeksi,” cakapnya melalui sambungan telepon
Selanjutnya, Febri langsung menghubungi salah satu tenaga kesehatan (Nakes) yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah Bumi Panua (RSBP) untuk memvalidasi terkait kebenaran obat yang kata dokter di Puskesmas tidak tersedia. Jawaban dari Nakes RSBP, obat yanag dibutuhkan oleh pasien sudah masuk di Dinas Kesehatan sejak Rabu (14/01).
“Nah disitu saya kaget, karena belum lama ini kita berstatus KLB (Kejadian Luar Biasa) atau membludaknya penderita Malaria, kenapa bisa kehabisan obat untuk malaria, saya telepon salah satu Nakes di RSBP, dari situ saya tahu bahwa ini obat sudah masuk sejak kamis kemarin,” kata Febri saat itu.
Febri kembali menghubungi dokter yang berada di Puskesmas Paguat dan menyampaikan bahwa obat yang dibutuhkan itu tersedia di Dinas Kesehatan, namun saat itu dokter menyampaikan, injeksi hanya bisa diberikan kepada pasien yang telah melalui tahapan pemeriksaan mikroskop, ditambah lagi dengan Nakes bagian pemeriksaan mikroskop tidak sedang berada di tempat.
“Saya telepon lagi dokter itu, saya bilang, kata dokter itu obat tidak ada, ini barusan saya cek ada, saat itu dokter kembali beralasan bahwa, untuk menyuntikkan injeksi, pasien harus melalui tahapan pemeriksaan mikroskop, sementara petugasnya tidak masuk,” jelas dokter melalui sambungan telepon
Mendengar alasan itu, keluarga pasien pun telah menyetujui rekomendasi dari dokter untuk melakukan rujukan ke Rumah Sakit Aloei Saboe demi kesehatan pasien, mengingat saat itu kondisi pasien makin memburuk hingga kehilangan kesadaran. Pasien akhirnya dinyatakan meninggal oleh pihak keluarga pada hari ini tepat seminggu setelah dirinya masuk di puskesmas paguat.
Setelah pasien meninggal dunia, terungkap fakta bahwa, pihak puskesmas lalai dalam menangani pasien, ketersediaan obat di Dinas Kesehatan yang dapat dipantau melalui online justru tidak dimanfaatkan oleh pihak puskesmas. Hal itu sampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pohuwato, Fidi Mustafa melalui pesan WhatsApp
“Jujur saya sangat menyayangkan pihak puskesmas, ini saya barusan dihubungi oleh kepala dinas, dan ternyata obat itu memang ada, hanya saja pihak puskes terlalu cuek dengan keadaan pasien, ini malaria tidak bisa lama, dan ini yang saya khawatirkan,” jelas Febri

















