
TATIYE.ID (SPORT) – Pelatih sepak takraw Gorontalo, Herson Taha mengaku pernyataan beberapa mantan atletnya yang belum lama ini berlaga diajang Porprov Jawa Barat sungguh menggelikan. Bahkan pelatih timnas sepak takraw Indonesia tersebut mengaku telah memberikan kesempatan kepada atlet-atletnya tersebut, namun tidak dipergunakan dengan baik.
“Bukan tidak diperhatikan, tapi mereka yang tidak ada di tempat latihan. Kami selalu memberikan kesempatan yang sama kepada semua atlet untuk mengembangkan prestasinya. Setiap ada event kami memberikan kesempatan yang sama kepada setiap atlet untuk berlatih dan bersaing secara sehat,” kata Herson Taha, Senin (14/11/2022).
“Namun pada saat penentuan atau penetapan atlet yang masuk pada tim definitif tentu kami memilih yang terbaik. Dan itu kami sudah sampaikan dari awal, silahkan berlatih dengan sungguh-sungguh, silahkan bersaing menunjukkan kehebatannya masing-masing. Yang pasti siapa yang terbaik itulah yang akan kami pilih,” lanjutnya.
Herson juga mencontohkan saat persiapan Pra PON 2019, semua atlet dipanggil untuk ikut Training Center (TC) dan selanjutnya dipilih 9 atlet terbaik dan siap untuk tim definitif. Begitu pula pada pelaksanaan TC PON 2020 Papua, semua atlet dipanggil untuk ikut TC baik yang ikut Pra PON maupun yang tidak ikut.
“Sehingga meskipun kuota atlet PON yang diberikan hanya 4 orang, tapi yang kami ikutkan dalam TC ada 15 orang. Dan pada akhirnya kami harus memilih 4 orang atlet terbaik untuk menjadi tim definitif sesuai kuota oleh PB PON. Jadi tidak benar kalau tidak ada perhatian pemerintah, yang ada atletnya yang malas latihan,” beber Herson.
Pelatih bertangan dingin melahirkan atlet-atlet hebat seperti Hendra Pago dkk mengaku sangat kecewa dengan pernyataan mantan atletnya tersebut.
“Hanya orang gila yang mau memfasilitasi orang yang tidak latihan. Dalam olahraga indikatornya jelas, yaitu prestasi. Dan saya sebagai pelatih tidak pernah main-main dalam hal pemilihan atlet. Saya benar-benar memilih atlet yang siap tanding baik secara fisik maupun psikisnya,” tegas Herson.

“Saya tidak pernah mempertimbangkan unsur kedekatan ataupun unsur kekeluargaan dalam memilih atlet. Siapapun dia kalau memang terbaik pasti akan terpilih. Lihat aja di PON Papua, beberapa atlet nasional peraih medali Asian Games 2018 terpaksa tidak kami pilih karena malas latihan sehingga berimbas pada penurunan prestasinya,” tambahnya.
Jujur diakui Herson, saat itu ia lebih memilih atlet yunior di PPLP ketimbang atlet senior yang malas latihan. Dan buktinya bisa dilihat bersama, Gorontalo bisa meraih 2 medali emas dari 2 nomor yang diikuti pada PON 2021 Papua. Andaikan tetap mempertahankan atlet senior yang tidak mau latihan, maka pasti tidak akan mendapatkan medali emas itu.
“Di sepak takraw tidak ada pengaruh seorang atlet menyandang nama besar, jika tidak latihan maka bersiaplah untuk kalah dipertandingan. Makanya saya selalu memilih atlet yang siap tanding dan disiplin dalam latihan. Jadi tidak benar jika ada yang mengklaim bahwa Pemerintah Provinsi Gorontalo tidak memperhatikan mereka. Yang benar adalah mereka sendiri yang malas latihan sehingga tidak terpilih lagi di setiap event untuk mewakili Gorontalo,” jelas sosok pelatih yang terakhir kali tampil sebagai atlet di PON 2008 silam.
Terakhir Herson yang mengaku sangat kesal dengan pernyataan para mantan atlet yang seakan merasa tidak diperhatikan pemerintah daerah juga membeberkan beberapa fakta yang cukup mencengangkan.
“Seperti Ikram, dia sendiri pernah kita rekom ke Pelatnas Sea Games 2019, tapi malah bikin malu kedapatan merokok disana kong malas latihan. Pak Asnawi Ketua PB PSTI komplain kita, terus mau suruh pilih yang begitu? Begitu juga Aguweli yang so tidak pernah datang di lapangan baru dang? Herson, Rezki Djaina, Rizky Pago juga bagitu, sudah diberi kesempaatan di PON tapi tidak disiplin latihan, Kong dang?” ungkapnya. (*)














