
TATIYE.ID – Agenda kegiatan dan liputaan hari Selasa (8/02/2022) sejak siang meliput acara penerimaan penghargaan dan malam harinya agenda Wali Kota Gorontalo mendampingi Menpora pada sebuah acara partai politik hingga agenda utama kedua yakni silaturahmi dengan KKIG Sultra yang dimediasi Bupati Konawe Utara akhirnya selesai.
“Tinggal satu agenda lagi,” ujar Abink yang nampak neces dengan stelan sepatu kuning nike yang dibeli sehari sebelum liputan penghargaan wali kota.
Sebelum bergerak pulang ke Gorontalo, kami berempat menyempatkan diri makan malam dan nongkrong bersama teman-teman wartawan senior Gorontalo serta Ketua PWI dan SIWO PWI Gorontalo disalah satu cafe di tengah kota Kendari.
Sayang, setelah semua rangkaian agenda HPN berakhir sekitar pukul 05.00 pagi, Bobi merasakan demam dan tidak enak badan. Bahkan sempat muntah dan susah menelan makanan. Bersama ponakannya Risno kami berusaha mencari solusi obat yang bisa diminum Bobi agar bisa kami melanjutkan perjalanan pulang.
Akhirnya setelah menunggu beberapa waktu, tepat pukul 06.25 menit kami meninggalkan rumah kakaknya Bobi menuju Kabupaten Konawe Utara. Kebetulan ada sedikit agenda silaturahmi antara Bupati Konawe Utara dengan rombongan Bupati Gorontalo Utara di salah satu objek wisata pantai Taripa yang menjadi ikon pariwisata Kabupaten yang bupatinya masih kakak sepupu Bobi itu.
Disitu kondisii Bobi masih diragukan untuk dapat melanjutkan perjalanan. Sehingga sempat terpikir jika kondisinya belum membaik, perjalanan akan kita tunda hingga hari Jumat pagi barulah start dari Konut ke Gorontalo.
“Kalau masih begini kondisinya, besok pagi saja kita lanjut perjalanan. Tapi harus kase minum obat dulu dia biar fit,” ujar Abink yang juga tidak tega melihat kondisi Bobi.
Alhamdulillah, setelah minum obat serta vitamin, kondisi Bobi sudah semakin membaik dan sekitar pukul 10.00 kami akhirnya pamit dan melanjutkan perjalanan pulang.
“Untung so sehat ka Bobi, kalau tidak bagaimana mo lewat di puncak perbatasan Konut deng Morowali kak,” ucap Firman kepada saya yang memang sebelumnya sudah diskusi siapa nanti yang jadi joki kalau kondisi Bobi belum membaik.
Sungai Meluap dan Pohon Tumbang Nyaris Hambat Jalan Pulang
Sebelum perjalan kami lanjutkan, bunyi telpon dari kakak Bobi yang juga Kasat Satpol PP Kabupaten Konut mengangetkan kami. Beliau minta untuk mampir dulu di kantornya, ajakan tersebut langsung diiyakan Bobi sembari mengatakan.
“pas, skalian kita juga mau makan belum sarapan ini,” ucap Bobi basa basi.
Setelah sedikit mutar-mutar mencari kantor Satpol PP, kami pun sampai dan sedikit menunggu Bobi akhirnya keluar dengan wajah sumringah sambil menenteng kantong plastik berisikan minuman teh kotak. “ayo kita makan dulu,” kata Bobi.
Saat makan, kami kedatangan tamu yang ternyata teman lama Bobi. Sambil makan dan ngobrol akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 11.30 kami pun bergegas melanjutkan perjalanan. Karena terlihat cuaca mulai mendung dan kami takut kehujanan saat menanjak di kaki gunung yang sebelumnya pernah membuat kami panik karena mobil yang hampir terbalik.
“Ups, kenapa disana itu Bob?,” tanyaku saat kami berada dijalan berbecek akibat sebagian jalan ada pengerjaan cor beton. Terlihat dua mobil arah berlawanan yang melintas dan jawaban para sopir bahwa mobil kami terlalu kecil untuk melintas membuat kami sedikit panik.
Untunglah setelah memberikan kesempatan beberapa mobil besar dibelakang kami untuk duluan lewat dan keberanian Bobi kita berhasil menerobos air luapan sungai setelah sekitar 45 menit kami tertahan disitu.
Jalan menanjak usai gerbang perbatasan antara Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah dan Konawe Utara Sulawesi Tenggara kami lewati. Jalanan ekstrim yang saat melintas lalu terasa tidak begitu menakutkan. Banyak mobil berpapasan dan curam dan terjalnya jalan bisa kami lihat meski tidak bisa dipungkiri rasa takut itu masih ada.
Alhamdulillah kami ucapkan lagi dalam hati, setelah sekitar pukul 03.13 kami sudah mulai memasuki kawasan pabrik yang ada di Kabupaten Morowali. Kami pun sempat hampir terhambat dalam perjalanan karena robohnya pohon besar di ruas jalan Trans Sulawesi atau diantara perbatasan Kabupaten Morowali dan Morowali Selatan.
Tapi karena mobil kami kecil, akhirnya melalui arahan warga dan sopir mobil lain dilokasi kejadian akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di Bungku, ibu kota kabupaten Morowali.
“Tadi itu nyaris, kalau tidak bisa lewat paling torang tenga malam baru sampai Bungku,” celutuk Bobi
Tiba di Bungku, kami langsung cari ganjalan perut alias makan malam karena memang sedari tadi perut ini sudah minta untuk diisi. Makan sudah, perut kenyang, tapi kami terpaksa harus mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan malam itu. Alasannya, karena sudah mulai turun hujan dan ada rumor bahwa jalan perbatasan Morowali Utara dengan Poso khususnya saat jalanan menurun ke arah kota Tentena agak rawan jika melintas malam hari.
“Kita tidur disini saja, besok pagi-pagi setelah sarapan kita lanjutkan lagi perjalanan,” usul Abink sambil mengaku biar kondisi Bobi lebih fit lagi nanti sebab masih ada track jalan yang ngeri-ngeri sedap yang akan kita lewati nanti.
Singkat cerita, jalanan ekstrim antara Morowali Utara dan Poso berhasil kita taklukkan. sekitar pukul 16.30 kita sudah berada di Tentena, dan langsung melanjutkan perjalanan lagi hingga sempat istirahat sholat magrib di daerah Desa Binjay Kabupaten Parimo.
Pukul 20.00 dan kontek dengan rombongan Bupati Gorontalo Utara yang singgah istirahat di wilayah simpang tiga Toboli. Kamipun izin bergabung sekalian makan malam bersama pak Bupati Indra Yasin.
Sekitar dua jam istirahat, kamipun pamit lebih dulu melanjutkan perjalanan pulang ke Gorontalo, karena terinformasi pak Bupati masih akan nginap semalam di Parigi Moutong dan besok paginya lanjutkan perjalanan.
Kali ini saya yang gantian jadi sopirnya. Karena Firman dan Bobi sudah terlalu capek dan sudah mulai ngantuk. Hingga akhirnya di penghujung kecamatan Moutong, saya minta firman gantian jadi sopir karena sudah tak tahan dengan kantuk yang saya rasa.
Tanpa terasa, adzan subuh mulai berkumandang, ternyata setelah ditanya kita sudah di wilayah Kecamatan Popayato, Gorontalo. Tidak terasa memang perjalanan pulang ini. Dan usai sholat subuh kamipun jalan lagi hingga saya harus gantian jadi sopir karena Bobi yang ternyata masih kantuk berat.
Sabtu Pukul 08.00 pagi kami sudah mulai merasakan sakit perut, ups ternayta belum sarapan, hahahahaa. Hingga akhirnya tiba di salah satu warung nasi kuning di pinggir jalan di daerah Bolihutuo, Kabupaten Boalemo. Kami istirahat dan sempat ngopi-ngopi di warung itu.
Satu jam kami istirahat makan, lalu kemudian melanjutkan perjalanan. Kali ini Bobi sudah tampak bugar dan dia yang gantian jadi sopirnya. Hingga tepat pukul 11.30 kami tiba di Limboto, kabupaten Gorontalo tepatnya dirumah saya, kebetulan rumah Bobi, Firman dan Abink di Kota Gorontalo.
“Perjalanannya mengasikkan, ini pertama kali kami diluar Bobi maksudnya melakukan perjalanan panjang via darat dengan berbagai rintangan jalan yang ekstrim,” jelas Firman.
Pesan positifnya, selain banyak pengalaman yang dapat kita ambil, dengan perjalan ini kita dapat merasakan bagaiman perjuangan para sopir mobil-mobil truk yang menempuh perjalanan panjang demi sesuap nasi. Selain itu, pengalaman mengetahui budaya, kultur dan bahkan pertanian serta objek wisata sepanjang jalan yang kita lewati menjadi sebuah tambahan ilmu juga pengalaman yang mungkin tidak akan terulang kedua kalinya. (selesai)





















