
TATIYE.ID (GORUT) – Thariq Modanggu kembali menunjukkan pendekatan tak biasa dalam membenahi wajah daerah. Tanpa menunggu program besar atau kucuran anggaran, ia memilih turun langsung ke Pasar Jajan Meluo di Kecamatan Kwandang, memastikan denyut ekonomi rakyat tetap hidup sekaligus mulai menatanya dari hal-hal paling mendasar.
Kunjungan itu bukan sekadar inspeksi. Di tengah aktivitas pasar yang masih berjalan, Thariq mengajak kepala desa setempat berdialog, menegaskan bahwa kawasan tersebut bukan ruang mati. Pasar Meluo, baginya, adalah simpul ekonomi yang masih berfungsi, hanya saja membutuhkan sentuhan agar lebih tertib, bersih, dan layak.
“Tempat ini masih digunakan masyarakat untuk beraktivitas ekonomi. Karena itu, kita ingin segera melakukan penataan,” ujarnya, (02/03/2026).
Lebih dari sekadar pasar, kawasan Meluo dipandang sebagai bagian dari “kota lama” Gorontalo Utara ruang dengan nilai historis sekaligus kepadatan aktivitas warga. Di titik inilah, penataan tidak hanya soal estetika, tetapi juga soal menjaga identitas dan menghidupkan kembali ruang publik yang mulai terabaikan.
Rencana yang disusun pun sederhana namun konkret: pengecatan ulang, pemasangan lampu penerangan, hingga pembenahan kebersihan dan fasilitas pendukung. Namun yang membuatnya berbeda, seluruh langkah ini digagas tanpa mengandalkan anggaran APBD.
Alih-alih bergantung pada struktur birokrasi, Thariq menghidupkan kembali semangat gotong royong sebagai fondasi utama. Ia bahkan menegaskan akan memulai gerakan tersebut dari dirinya sendiri sebuah sinyal bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu sistem bergerak, tetapi bisa dimulai dari kemauan pemimpin.
Langkah ini juga memiliki arah yang lebih luas. Penataan Pasar Meluo diharapkan mampu mengurai kepadatan aktivitas ekonomi yang selama ini terpusat di wilayah Molingkapoto dan Pontolo. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tidak lagi bertumpu pada satu titik, melainkan menyebar lebih merata.
“Walaupun bertahap, kita ingin Gorontalo Utara terus bercahaya. Meluo sudah saatnya juga mulai bercahaya,” katanya optimistis.
Di tengah keterbatasan anggaran, pendekatan ini menjadi penanda penting: bahwa pembangunan tidak selalu identik dengan proyek besar. Kadang, ia justru dimulai dari cat yang baru, lampu yang menyala, dan satu hal yang sering terlupakan kemauan untuk bergerak bersama.














