
TATIYE.ID (GORUT) – Lumpur masih tebal, tanah amblas membentuk parit-parit dalam, dan sisa banjir bandang belum sepenuhnya surut. Di tengah kondisi itu, Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu melangkah perlahan, dengan sepatu bot orangenya terbenam di air dan tanah yang masi basah.
Saat meninjau beberapa titik lokasi banjir usai melaksanakan solat Idul Adha, beberapa masyarakat korban banjir berdiri ragu di bibir lumpur. Jalan yang biasa mereka lalui kini berubah menjadi kubangan licin dan berbahaya. Tanpa ragu Thariq berhenti, menurunkan badannya, lalu mengulurkan tangan untuk menyapa para korban.

Terlihat tak ada jarak antara bupati dan masyarakat. Tangan mereka saling menggenggam, sementara senyum kecil perlahan muncul di wajah-wajah yang sebelumnya cemas. Di belakang, warga dan relawan menyaksikan—sebuah pemandangan sederhana, namun sarat makna.

Rumah-rumah di sekitar lokasi terlihat rusak. Dinding tertutup lumpur, tanah longsor membentuk gundukan besar, dan anak-anak lain berdiri di kejauhan, menyaksikan pemimpin daerahnya turun langsung ke medan paling sulit.

Bagi putra asli Kecamatan Biau ini, kunjungannya ke lokasi bencana bukan sekadar peninjauan formal. Ia memilih hadir langsung di titik terparah, menyusuri medan yang sama dengan warga, merasakan apa yang mereka hadapi setiap hari sejak banjir bandang melanda.
“Kehadiran saya kesini untuk memberikan rasa aman kepada mereka. Saya berharap mereka tidak berlarut – larut dalam kecemasan saat kehadiran saya disini,” ujarnya.
Momen Bupati hadir di tengah – tengah masyarakat ini menjadi gambaran nyata kepemimpinan yang tidak hanya terlihat di balik meja atau podium. Di Kecamatan Biau hari ini, kepemimpinan hadir dalam bentuk tangan yang terulur, langkah yang disamakan, dan keberanian untuk turun ke lumpur bersama rakyat.
Di tengah kerusakan dan duka, cerita kecil dari sebuah dokumentasi foto ini menyimpan pesan mendalam, ‘Biau Belum Pulih, Tetapi Tidak Sendirian’. (*)














