
Penulis : Dr. Faisal Pakaya
TATIYE.ID (GORONTALO) – Pondok Pesantren Hubulo bukan sekadar institusi pendidikan Islam. Ia adalah buah dari visi besar almarhum H. Thayeb Mohammad Gobel seorang perintis industri nasional yang menanamkan benih peradaban dan dakwah di tanah kelahirannya, dengan tagline yang sering dipajang dan dituliskan pada logo setiap momen milad /HUT “ Membangun dan Mencerdaskan Masyarakat Gorontalo”
Tanggal 7 September adalah milad Pesantren Hubulo. Maka setiap masuk bulan September ingatan kolektif alumni dan khususnya keluarga besar Pesantren Hubulo, tertuju pada sebuah Lembaga Pendidikan Islam, warisan luhur H. Thayeb Mohammad Gobel yang berdiri di Tapa, Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo.
Bulan September juga merupakan bulan kelahiran almarhum Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel beserta kedua putranya. Beliau lahir pada 12 September 1930 dan wafat pada 21 Juli 1984. Sementara itu, putra beliau, Dr. (H.C.) H. Rachmat Gobel yang baru saja berpulang keharibaan Allah pada 10 Juli 2026, lahir pada 3 September 1962, dan Abdullah Gobel lahir pada 23 September 1966.
Bagi sebagian orang, hari ulang tahun mungkin sekadar penanda bertambahnya usia. Namun bagi Hubulo, hal tersebut adalah momentum untuk menengok perjalanan panjang 39 tahun yang lalu. Sebuah lembaga Pendidikan yang telah melahirkan begitu banyak generasi, menanamkan nilai-nilai keislaman, dan ikut memberi warna bagi perjalanan masyarakat Gorontalo.
Saya termasuk angkatan ke 3 Hubulo, masuk tahun 1990 dan lulus MTs tahun 1993. Ketika jenjang Aliyah saya termasuk diantara 30an orang santri Hubulo yang mendapatkan beasiswa dari Yayasan Anni Ebu Gobel (YAEG) untuk nyantri di Pesantren di Jawa dan Jakarta. Setiap liburan kami berkumpul di rumah Jl. Soepomo 55A Jakarta Selatan. Disana kami bertemu dengan keluarga Gobel Khususnya anak anak almarhum Drs.H Thayeb Mohammad Gobel yaitu Ibu Olga Fatma Gobel biasa disapa Ibu Olly, Ibu Emma biasa disapa Ibu Emmy(Almarhumah), Ibu Clara (Almarhumah), Ibu Seminarti biasa disapa Ibu Tati, Pak Rachmat biasa disapa K Teni (Almarhum), Ibu Indarawati biasa disapa Ibu Tiu dan Pak Abdullah Gobel biasa disapa Pak Ducko. Kami lebih banyak dalam asuhan pak ducko, karena beliau lebih lama tinggal bersama kami di Rumah Soepomo. Jln. Dr. Soepomo No. 55A., kami menyebutnya UNISMA ( Universitas Soepomo 55A).
Di Rumah Soepomo kami diajarkan berbagai disiplin ilmu yang kami tidak dapatkan di Pesantren. Kami juga diajak pada setiap acara keluarga termasuk liburan ke tempat wisata terkenal di Jakarta dan pengenalan perusahan Gobel bahkan ada yang langsung magang. Intinya saya ingin mengatakan bahwa saya dan sekitar 30an orang santri yang di sekolahkan di Jakarta & Jawa secara tidak langsung adalah anak Ideologi Gobel.
Bpk RACHMAT GOBEL WAFAT…
Sebagai anak ideologis, izin Saya ingin mengatakan bahwa “Hubulo adalah bagian dari sejarah keluarga, bagian dari sejarah pendidikan Islam di Gorontalo, sekaligus bagian dari investasi akhirat yang insya Allah terus mengalir pahalanya.”
Karena itu, berbicara tentang Hubulo tidak dapat dilepaskan dari nama besar Gobel. Dan berbicara tentang Gobel, rasanya juga tidak lengkap apabila tidak dikaitkan dengan HUBULO (Pesantren). Karena konon sesungguhnya Hubulo ya Gobel (sesuai aksen Belanda).
Kepergian Bapak Rachmat Gobel Sebagai Ketua Yayasan yang menaungi Pesantren Hubulo meninggalkan kesedihan sekaligus ruang perenungan yang panjang. Beliau bukan sekedar tokoh Gorontalo yang dikenal karena karya, pemikiran, kontribusi sosial, dan berbagai ikhtiarnya untuk membangun daerah. Beliau juga merupakan salah satu putra dari pendiri Pesantren Hubulo.
Karya-karya yang lahir dari gagasan dan kepeduliannya telah menjadi bagian dari wajah Gorontalo. Sumbangan, pembangunan, perhatian terhadap masyarakat, pengembangan ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, hingga berbagai gagasan yang pernah diperjuangkannya menjadi bukti bahwa beliau ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi tanah kelahirannya.
Namun bagi seorang Muslim, perjalanan hidup tidak berhenti ketika nama dikenang manusia. Justru setelah seseorang meninggalkan dunia, pertanyaan yang lebih penting adalah, Apa yang masih terus hidup dari dirinya ketika tubuhnya telah kembali kepada tanah?. Di sinilah kita berbicara tentang amal jariyah.
SYAIR DAN DOA PARA SANTRI
Pesantren bukan sekadar bangunan, Pesantren adalah manusia, Pesantren adalah guru yang mengajarkan ilmu.
Pesantren adalah santri yang belajar, berdoa, menghafal Al-Qur’an, menegakkan shalat, memperbaiki akhlak, dan kelak kembali ke tengah masyarakat dengan membawa ilmu yang mereka peroleh.
Karena itu, perhatian kepada pesantren sesungguhnya adalah perhatian kepada masa depan umat.
Lebih dari itu, memperhatikan santri adalah salah satu bentuk investasi yang mungkin tidak langsung terlihat hasilnya hari ini, tetapi dapat memberikan manfaat yang jauh lebih panjang.
Bayangkan seorang santri Hubulo yang hari ini masih duduk di bangku kelas, kelak menjadi guru yang mengajarkan Al-Qur’an kepada ratusan anak.
Bayangkan, setiap kali mereka membaca Al-Qur’an, berdoa, mengajarkan ilmu, bersujud kepada Allah, dan melakukan kebaikan, nama para pendiri dan orang-orang yang telah bersungguh sungguh menjaga pesantren itu ikut disebut dalam doa-doa mereka.
Bukankah ini bentuk kemuliaan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar dikenang manusia?
Di hadapan Allah, ukuran akhir kehidupan manusia, bukan semata-mata seberapa masyhur seseorang di bumi. Yang lebih penting adalah seberapa bernilai amalnya di langit.
Karena itu, mari kita membayangkan bahwa warisan terbesar keluarga Gobel bukan hanya karya-karya besar yang dapat dilihat oleh mata manusia, tetapi juga amal-amal yang terus hidup setelah mereka tiada.
Salah satu nya Adalah perhatian terhadap Pesantren Hubulo.
Hubulo adalah Amanah, Amanah untuk dijaga, Amanah untuk dikembangkan, Amanah untuk diperhatikan.
SELAMAT MILAD PONDOKKU….IBUKU
TERIMA KASIH KELUARGA GOBEL.
Semoga kita semua dapat menjaga Amanah ini…..















