IDI Kabgor Dukung Pemerintah Larang Perayaan Tahun Baru

TATIYE.ID (KABGOR) – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Gorontalo memberikan apresisasi kepada pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, yang mengeluarkan kebijakan larangan perayaan tahun baru.

Pasalnya, acara perayaan tahun baru dinilai bisa menimbulkan klaster baru di tengah jumlah kasus corona di seluruh Indonesia masih terus mengalami peningkatan, dan pemerintah terus melakukan berbagai upaya penanganan dan pencegahan penularan Covid-19.

“Saat ini jumlah penderita Covid-19 masih semakin meningkat, dimana-mana sudah zona merah, bahkan istilah zona hitam sudah ada. Semoga Gorontalo tidak akan ke zona merah, tapi kita harus hati-hati. Karena itu kami sangat setuju sekali tidak ada perayaan lepas sambut tahun baru, dan semoga pandemi corona ini cepat selesai,” ungkap Ketua IDI Kabupaten Gorontalo, Irawan Huntoyungo, ditemui di rumah pribadinya, Jumat (25/12/2020).

Apresiasi dari IDI ini juga disampainkan mengingat jumlah dokter yang meninggal dunia akibat Virus Corona yang semakin banyak. Berdasarkan survei tim mitigasi Covid-19 Pengurus Besar (PB) IDI, sejak awal pandemi Covid-19 hingga 24 Desember 2020 lalu, jumlah dokter yang meninggal sudah 224 orang.

Dari jumlah tersebut, 123 diantaranya merupakan dokter umum (4 diantaranya adalah guru besar), 98 orang dokter spesialis (7 diantaranya adalah guru besar), dan dokter residen sejumlah 3 orang.

Jawa Timur (Jatim) menjadi daerah dengan jumlah kematian dokter terbanyak, yakni 42 orang dokter. Diurutan ke dua ada DKI Jakarta, dengan kematian dokter sebanyak 35 orang dokter, dan di posisi ketiga ada Jawa Tengah (Jateng) dengan jumlah kematian 28 dokter.

“Untuk itu, mari kita sama-sama menjaga kesehatan. Mencegah penularan corona dengan tata cara mematuhi protokol kesehatan yaitu 3 M, mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker,” imbau Irawan.

Banyaknya dokter yang meninggal akibat Covid-19 ini seharusnya menjadi perhatian. Sebab, rasio jumlah dokter dengan penduduk Indonesia itu sangat tinggi. Dokter umum misalnya, Ia memperkirakan rasionya mencapai 1 banding 200 ribuan orang.

“Sehingga kehilangan satu orang dokter umum saja bisa sangat berarti untuk masyarakat indonesia. Apalagi dokter spesialis yang totalnya masih lebih sedikit dari dokter umum,” pungkasnya.

Exit mobile version