Penulis : Faiza A. Dali, S.Pi., M.Si.
Mahasiswi Program Doktoral (S3) Institut Pertanian Bogor
Dosen Universitas Negeri Gorontalo
Tatiye.id (Opini) Limbah makanan sisa (food waste), menurut FAO didefinisikan sebagai makanan yang layak untuk dikonsumsi, namun tidak dimakan karena dibiarkan hingga basi, atau dibuang oleh konsumen.
Food and Agriculture Organization (FAO) yang bernaung di PBB menyatakan negara penghasil limbah makanan sisa terbanyak di dunia, adalah Arab Saudi 427 kg/hari/orang, Indonesia 300 kg/hari/orang dan Amerika 277 kg/hari/orang.
Kepala Perwakilan Badan Pangan PBB (FAO), Mark Smulders pada tahun 2016 mengatakan, di Indonesia sampah makanan mencapai 13 juta ton setiap tahunnya. Sampah makanan ini kebanyakan berasal dari perusahaan ritel, katering, dan restoran. 13 juta ton sampah makanan yang diproduksi Indonesia per tahun tersebut jika dikelola dengan baik dapat menghidupi kurang lebih 28 juta manusia.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, yang dikutip dari bps.go.id, angka 28 juta orang ini hampir sama dengan jumlah penduduk miskin atau sekitar 11% dari populasi penduduk Indonesia. Sementara itu, impor limbah sisa makanan yang terjadi pada periode Januari-Oktober 2016 mencapai US$ 2 miliar atau kurang lebih Rp 27 triliun (BPS, 2017). Artinya, Indonesia mengimpor sampah makanan dari luar negeri untuk keperluan seperti pakan ternak.
Perilaku konsumen (masyarakat) yang sering tidak menghabiskan makanan juga berkontribusi terhadap besarnya jumlah sampah makanan di Indonesia. Berat sampah makanan ini sama dengan 500 kali berat Monas di Jakarta. Bahkan berdasarkan data tahun 2014 yang dikutip dari akun Facebook Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO Indonesia) World Food Day Indonesia, mengungkapkan sekitar 1/3 makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia terbuang, dengan jumlah 1,3 milyar setiap tahunnya di dunia, dan Indonesia menyumbang 21 juta ton.
Ini artinya kita bisa membuang makanan hanya dalam hitungan menit, tapi apakah kita sadari bahwa alam membutuhkan waktu bulanan hingga tahunan sebelum makanan sampai ke piring kita.
- Dampak ekonomi limbah makanan sisa
Dampak ekonomi dari pemborosan makanan tersebut sangat signifikan, di mana FAO mengatakan bahwa kerugian dari limbah makanan bertambah hingga mencapai US$680 miliar (Rp 9.792 triliun) di negara-negara industri, dan di negara-negara berkembang, angka itu bisa mencapai US$310 miliar (Rp 4.464 triliun).
Di negara berkembang, 30-40% kerugian makanan terjadi pada tingkat pascapanen dan pengolahan, sementara di negara industri lebih dari 30-40% kerugian terjadi pada tingkat perusahaan ritel, restoran, perumahan dan konsumen (Godfray dkk., 2010).
Jenis makanan yang memiliki tingkat paling tinggi terbuang adalah makanan buah, sayuran dan umbi-umbian. Kehilangan makanan di negara-negara berkembang terutama disebabkan oleh karena kurangnya investasi berupa infrastruktur dan kurangnya pengetahuan dalam upaya melindungi kerugian yang timbul dari kerusakan dan pembusukan makanan yang disebabkan oleh hewan pengerat, serangga, serta mikroorganisme lainnya.
Kerugian makanan di negara-negara maju disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk biaya makanan yang relatif rendah dan kurangnya insentif untuk menghindari dari pemborosan (Godfray dkk., 2010).
Pada tingkat ritel dan restoran sebagian besar makanan terbuang karena standar kualitas yang terlalu menekankan pada penampilan.
- Dampak lingkungan limbah makanan sisa
Dampak food waste terhadap lingkungan juga tidak kalah buruk yang lain, ternyata sampah makanan ini menyumbang 10% dari gas emisi yang dapat menyebabkan terjadinya efek rumah kaca, dan menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap terjadinya penggundulan hutan dan penipisan sumber air dunia.
Limbah makanan ini diprediksi oleh Ovais Sarmad, seorang pejabat PBB yang dikutip dari www.aa.com.trakan, akan menjadi penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia. “Sepertiga dari semua makanan yang kita konsumsi atau setara dengan 1,3 miliar ton per tahun, hilang atau terbuang” kata Ovais Sarmad, wakil sekretaris eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), pada hari Jumat (1/11/2019) dalam kegiatan kedua “International Zero Waste Summit†di Istanbul. Selama musim panas tahun ini, musim terpanas yang pernah tercatat, sekitar 179 miliar ton es mencair pada bulan Juli 2019, kata Ovais Sarmad.
“Kami memiliki periode waktu yang sangat singkat untuk mengatasi ancaman perubahan iklim yang semakin meningkat” ujar Ovais Sarmad.
Beliau menekankan, bahwa perubahan iklim menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup masyarakat. Lebih lanjut menurut beliau, ada hubungan langsung antara limbah dan perubahan iklim. Para ilmuwan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), “telah mengindikasikan dan membuktikan bahwa 3% dari emisi global secara langsung dikaitkan dengan pengelolaan limbah. “Tiga persen mungkin tidak terlihat seperti jumlah yang besar, tetapi dampaknya sangat besar,” ujar Ovais Sarmad. Limbah, kata Ovais Sarmad, sangat mudah dihasilkan oleh masyarakat, mulai dari rumah, kantor dan industri.
- Bagaimana Mengatasinya?
Lantas, apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah sampah makanan sisa? Ovais Sarmad mengatakan dunia harus memulai gerakan yang bisa mengurangi produksi 2,1 miliar ton limbah per tahun, salah satu peluang untuk mengurangi limbah adalah menggunakan kembali dan mendaur ulang sumber daya, agar memiliki manfaat ekonomi dan sosial. “Potensi ekonomi daur ulang dan konsep nol limbah (zero waste) bisa membantu kami mengatasi banyak tantangan dan limbah makanan daur ulang dapat menghasilkan jutaan dolar” ujar Ovais Sarmad menambahkan.
Dalam skala lokal cukup mudah mengurangi jumlah limbah makanan sisa, yaitu dengan memanfaatkan setiap bagian makanan yang ada dan tidak menyisakan makanan. Artinya kita sudah ikut berpartisipasi dalam mengurangi limbah makanan secara langsung. Jody seorang Sous chef dari Restoran Maple & Oak di Menteng Jakarta Pusat, yang dikutip dari kumparan.com, mengungkapkan, “memanfaatkan seluruh bagian dari bahan pangan yang akan kita masak bukanlah sesuatu yang mustahil, hanya diperlukan kreativitas dan pengetahuan tentang bahan pangan tersebutâ€.
Misalnya saja, saat memasak ayam, kita bisa mengolah beberapa bagian dari ayam seperti hati, kulit leher, hingga kepala dan tulangnya secara maksimal. Bagian paha dan dada ayam dapat dipanggang, kemudian untuk bagian tulangnya dapat dimanfaatkan menjadi kaldu untuk saus, sedangkan kulit lehernya dapat diolah menjadi kerupuk kulit.
Tidak hanya itu, pengolahan limbah makanan sisa harus tetap diperhatikan, dengan konsep pangan yang berkelanjutan (sustainable food), kita bisa memproses sisa makanan tersebut menjadi kompos agar lebih ramah lingkungan. Bukan hanya dari pengolahan makanannya saja, namun dari manusianya juga, bagaimana mereka menjaga hubungan “mutualisme†dengan organisme hidup lainnya yang ada di lingkungan.
Sustainable food tidak hanya berfokus pada jenis makanannya saja, namun lebih kepada bagaimana makanan tersebut dihasilkan dan diolah. Kentang misalnya, penanaman kentang yang dilakukan secara organik dan ramah lingkungan, lalu diolah dengan teknik memasak yang sebisa mungkin memanfaatkan seluruh bagiannya, bahkan kulitnya, hingga tak menyisakan limbah.
Konsep pangan berkelanjutan ini cukup luas, karena tak hanya menyangkut makanan yang ramah lingkungan saja, namun juga nilai gizi dan bagaimana pengolahan dari limbah makanan agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan.
Lebih dari itu, konsep sustainable food juga mampu mensejahterakan petani lokal. Bagaimana bisa? Sustainable food sangat menjaga lingkungan, salah satunya adalah dengan mengurangi polusi dari pengiriman barang. Otomatis, bahan makanan yang digunakan menggunakan produk lokal.
Selain kualitasnya lebih terpercaya, produk lokal juga tidak membutuhkan jarak pengiriman yang jauh, sehingga meminimalisir polusi yang dihasilkan saat distribusi barang dan para petani lokal ini tentu ikut merasakan dampak positif dari penjualan hasil kebun mereka.






















